Ketika seseorang berbicara tentang cinta, maka apa yang sebetulnya sedang bercokol dalam hatinya adalah untuk dicintai. Kalaupun ia mencoba mencintai seseorang, maka itu hanyalah agar dicintai. Ia mencintai untuk dicintai, sebagai balasannya. Dan bilamana ternyata yang dicintainya itu tidak membalasnya, maka ia akan sangat mudah berubah, bahkan berbalik membenci. Ia merasa kecewa, direndahkan, disepelekan, tidak dihargai, ditolak, ditampik, terhina atau sejenisnya. Yang tadinya ia sangka sebagai perilaku mencintai, kini telah berubah sama sekali. Kini ia berubah menjadi benci, bahkan dendam.
Apa yang sesungguhnya terjadi padanya? Apakah ia memang benar- benar mencintai orang, yang konon tadinya ia cintai itu? Ternyata tidak. Bukan karena ia kini membenci atau mendendam, namun karena keinginannya untuk memiliki, menguasai, mengangkangi bagi dirinya sendiri. Yang ada ketika itu sebetulnya sama sekali bukan cinta.
Ada yang bilang “Cinta bukanlah untuk memiliki, namun untuk dimiliki.” Dan kupikir itu ada benarnya, setuju atau tidak, ketika kita benar-benar dapat menghadirkan sikap batin demikian, itu memang mampu membahagiakan. Dengan membiarkan diri untuk dimiliki tanpa merasa perlu memiliki.
Mencintai ataupun membenci seseorang sepenuhnya ada dalam kewenangan kita bukan? Kita tidak dapat dipaksa untuk mencintai siapapun, kalau kita memang sama sekali tidak ada rasa itu, kecuali hanya berpura-pura saja. Demikian pula orang lain; tak seorangpun dapat kita paksa untuk mencintai kita. Bila kita benar-benar mencintai seseorang, kita tak perlu peduli apakah ia mencintai diri kita atau tidak. Aku, kamu, hanya mencintainya. Itu saja. Sama sekali tidak ada urusannya dengan masalah kepemilikan, masalah memiliki, menguasai.
Bila kita benar-benar dapat mencintai tanpa disertai atau dimotivasi keinginan yang kuat untuk memiliki, maka kita bisa merasakan kebahagiaan dari mencintai. Sebaliknya, kita hanya mengundang kepedihan, kesengsaraan. Ketulusan dalam mencintai itulah yang membahagiakan. Bukan balasan yang kita terima. Dalam ketulusan, tiada harapan, hasrat atau keinginan untuk menerima sesuatu sebagai imbalan. Dalam ketulusan, yang ada hanyalah sikap batin memberi dengan sukarela, dengan ikhlas. Itulah yang membahagiakan. Dan, itu pertanda bahwa cinta yang kita berikan murni adanya.
Sesungguhnya, kita tidak pernah layak untuk dicintai bila belum siap untuk mencintai. Adalah keliru memandang dicintai sebagai hak, sementara tak merasa wajib untuk mencintai. Kewajiban semestinya selalu mesti didahulukan. Apakah kewajiban itu mensyaratkan kerja fisik, kerja verbal, kerja perasaan ataupun kerja pikiran, ia tetap mesti didahulukan.
Curahan hati tentang hidup yang tersaji dalam bentuk puisi, refleksi, cerpen, memori, dan opini
Wednesday, October 21, 2009
Friday, October 9, 2009
Titik JenuH...
"Kadang kita masih boleh mengatasi segala masalah kita
tapi bila kita telah berada dititik jenuh...
semua seakan pupus dan hampa"
Raga bernyawa…
Jantung berdegub…
Darah mengalir…
Masih ada kehidupan
Tetapi…
Mengapa hembusan nafas terasa berat
Mengapa deguban jantung terasa pelan
Dan seolah berhenti
Mengapa aliran darah terasa lambat
Masih inginkah aku hidup?
Masih inginkah aku melihat duniaku?
Masih adakah masa depanku!
Masih adakah arti hidup!
Hahhhh!!!!!
Teriakanku hancurkan karang
Tapi hembusan nafas tetap terasa berat
Tangisanku pekakkan telinga
Tapi jantung tak berhenti berdegup
Amarahku gemparkan kota
Tapi darah tetap mengalir
Dan ku lelah dengan semuanya
Hingga ku terhenti
Dititik jenuhku
tapi bila kita telah berada dititik jenuh...
semua seakan pupus dan hampa"
Raga bernyawa…
Jantung berdegub…
Darah mengalir…
Masih ada kehidupan
Tetapi…
Mengapa hembusan nafas terasa berat
Mengapa deguban jantung terasa pelan
Dan seolah berhenti
Mengapa aliran darah terasa lambat
Masih inginkah aku hidup?
Masih inginkah aku melihat duniaku?
Masih adakah masa depanku!
Masih adakah arti hidup!
Hahhhh!!!!!
Teriakanku hancurkan karang
Tapi hembusan nafas tetap terasa berat
Tangisanku pekakkan telinga
Tapi jantung tak berhenti berdegup
Amarahku gemparkan kota
Tapi darah tetap mengalir
Dan ku lelah dengan semuanya
Hingga ku terhenti
Dititik jenuhku
Tuesday, September 29, 2009
Thursday, May 7, 2009
"Pain is inevitable. Suffering is optional." (mengalami rasa sakit itu lumrah, tidak akan terhindari. Tapi menderita itu adalah soal pilihan kita)

Untuk yang pernah merasakan sakit hati.. mungkin ini bisa jadi obat..
Mari disimak...
Ada sebuah kisah inspiratif yang saya ambil dari buku pertama saya, Emotional Quality Management. Kisahnya begini.
"Ada sebuah kisah tentang sebuah rumah. yang kebetulan dihuni seekor monster yang menetap di ruang bawah tanah. Sang pemilik rumah tahu tentang kehadiran monster itu. Jika merasa terusik, monster itu akan keluar menjahati, mengganggu bahkan memangsa siapa pun yang ada di dalam rumah, kecuali pemilik rumah itu. Hal ini membuat si pemilik rumah menyatakan perang dengan si monster. Namun, monster itu tak pernah berhasil diusir keluar. Maka monster itu pun dikurung di ruang bawah tanah.
Tetapi, monster itu selalu mampu menemukan jalan keluar. Bertahun-tahun, monster itu selalu mengancam kehidupan pemilik rumah. Hingga akhirnya, pemilik rumah memutuskan untuk membiarkan monster itu naik, dan tinggal di ruang dalam. Ruang bawah tanah pun dihancurkannya. Monster itu, ternyata merasa tidak tahan terus-terusan tinggal di dalam rumah. Monster itu pun pergi.... Selamanya!"
Kisah di atas saya pakai untuk menggambarkan soal berbagai 'monster' kepahitan, rasa sakit, luka ataupun kepedihan yang kita simpan terus-menerus dalam diri kita.
Hikmahnya, selama tidak pernah diselesaikan, kepedihan itu akan terus-menerus menghantui dan mengganggu kehidupan kita. Itulah sebabnya, ada benarnya saat Milton Wrad, penulis buku The Brilliant Function of Pain (Fungsi Brilian dari Rasa Sakit), mengatakan, "Fearing pain, fighting pain, avoiding pain or ignoring pain, only increasing it. Flow with it". Artinya, ketakutan pada rasa sakit, melawan rasa sakit, menghindari rasa sakit dan mengelak dari rasa sakit hanya akan meningkatkan rasa sakit kita. Mengalirlah dengan rasa sakit itu. Hal ini terutama benar, khususnya kalau kita bicara soal rasa sakit emosional.
Setiap orang pastilah pernah memiliki luka emosional. Bagi segelintir orang, luka tersebut menjadi luka batin berkepanjangan. Namun, di pihak lain ada yang bisa memilih untuk tidak menjadi terhambat karena luka-luka tersebut.
Saya ingat, ada dua wanita yang pernah dilecehkan secara seksual oleh orangtuanya. Satunya hidup menderita dan mulai membenci semua laki-laki. Satunya lagi, bisa belajar memaafkan dan memulai lembaran hidup baru dengan lebih berhati-hati memilih pasangan.
Wanita yang kedua ini, bisa kembali menjalani hidupnya secara tegar. Saat ditanya, bagaimana filosofi hidupnya dan mengapa dia bisa bertahan, jawabnya sederhana, "Pain is inevitable. Suffering is optional." (mengalami rasa sakit itu lumrah, tidak akan terhindari. Tapi menderita itu adalah soal pilihan kita). Sebuah filosofi hidup yang menarik.
6 Langkah
Secara psikologis, ada enam langkah proses penyembuhan luka batin yang bisa kita lakukan pada diri kita.
Pertama, identifikasi. Yakni mengidentifikasikan kembali isu-isu lama yang pernah membuat Anda terluka. Banyak orang enggan melakukannya, karena takut membangunkan 'monster' yang tertidur.
Namun, selama hanya ditimbun dan tidak diselesaikan secara tepat, maka monster ini akan terus-menerus mencari cara mengganggu kehidupan kita. Cara terbaik adalah menghadapinya dengan gagah berani dan sikap yang positif. Itulah sikap terbaik menghadapi luka-luka lama kita.
Kedua, kaitkan. Tanyakanlah pada diri Anda bagaimana luka-luka batin itu berpengaruh terhadap kehidupan Anda sekarang. Bagaimanakah hal itu mengganggu proses Anda sekarang. Kaitkan isu lama Anda dengan situasi yang Anda alami sekarang.
Biasanya luka batin serta pengalaman tak menyenangkan pada masa lampau memberikan pengaruh terhadap apa yang terjadi saat ini. Semakin banyak Anda terpengaruh, semakin Anda perlu membereskan.
Ketiga, pikirkan. Pikirkan apa yang mau diubah. Pikirkan pula, apa akibatnya bagi diri Anda jika hal tersebut dapat diubah dan diselesaikan. Pikirkan pula apa akibatnya jika ternyata Anda tidak mengubahnya sama sekali.
Keempat, afirmasi. Di langkah keempat ini, lakukanlah afirmasi terus-menerus kepada diri sendiri, bahwa Anda perlu, ingin serta memilih untuk berubah. Berlajarlah untuk mengatakan, "Luka ini menyiksaku, tetapi saya lebih kuat dan saya ingin menyelesaikan sehingga luka ini tidak lagi menghalangi hidupku", Ayo. Diriku lebih kuat dari luka ini." Saya tidak akan membiarkan luka ini mengganggu hidupku. Itulah pilihanku".
Kelima, ventilasi emosi. Di sinilah kita ditantang untuk memventilasikan emosi kita secara positif. Arti sederhananya, Anda perlu mencari cara untuk menyalurkan kemarahan tersebut secara sehat. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai aktivitas atau kegiatan seperti menulis diary, membagikan dengan orang lain, berbicara dengan seorang ahli, berolah raga, yoga, meditasi, dan masih banyak aktivitas lainnya.
Akhirnya, tahap keenam penyembuhan. Di sinilah kita mencoba melakukan proses penyembuhan baik secara mental maupun spiritual. Dalam tahapan ini, kita bisa membingkai ulang dengan memaknai secara berbeda apa yang terjadi ataupun mengganti kesan kita yang negatif soal luka itu, dengan pikiran positif.
Sebenarnya, hingga di langkah keenam ini, kita sudah menyelesaikan secara pribadi. Namun, jika diperlukan, langkah ini pun bisa dilanjutkan dengan menyelesaikan hal ini dengan penyebab luka batin Anda yang masih hidup.
Misalkan ada seorang anak dari istri pertama yang diusir keluar rumah oleh ayahnya, setelah ayahnya menikah dengan istri kedua. Hal ini menimbulkan luka batin cukup lama, tapi akhirnya setelah belajar proses di atas, dia bisa menelepon papa-nya dan mengatakan, "Papa, meskipun papa pernah usir saya dan saya terluka, saya mau bilang saya memaafkan papa hari ini." Bertahun-tahun kemudian, saat ditanya sahabatnya bagaimana dia mampu melakukannya, dia hanya berkata, "Saya menerima papa untuk menunjukkan bahwa diri saya lebih baik dari diri papa!"
Dalam kesempatan ini pula, mari kita belajar perlakukan luka batin kita dengan ramah. Lihat kembali luka itu, dan jangan ditolak. Belajarlah menerima kenyataaan dan perlakukan rasa sakit kita tersebut dengan ikhlas. Itu semua adalah pelajaran penting dalam hidup kita.
Hingga akhirnya, kita harus belajar mengatakan "Terima kasih luka batinku. Ini nggak nyaman tapi terima kasih. Kau sudah memberikan pelajaran penting bagi hidupku!". Pada akhirnya, semua luka batin yang tersembuhkan dalam hidup kita akan menjadi kebijaksanaan yang penting.
Itulah sebabnya orang mengatakan, "Wisdom is a healed pain". Begitulah. Rasa sakit dan luka batin yang telah disembuhkan, akan menjadi kebijaksanaan baru buat kita!
Penulis : Anthony Dio Martin.
Tuesday, March 17, 2009
Thursday, March 12, 2009
Tuesday, March 10, 2009
Lelahku
Saat aku ingin menjerit aku ingat, ini bukan saatnya lagi
Saat aku ingin menyesali aku ingat, waktu telah habis.
Karena kini tiba saatnya aku terus mengejar ketinggalan,
meraih impian dan menggapai harapan.
Tapi setiap hari sedikit kalimat keluar sinis dari bibirku “Aku lelah”
Aku takut tak mampu berlari,
aku takut tak mampu meraih mimpi
dan aku takut tak bisa mencapai harapan.
Dari semua itu aku punya sebuah kesimpulan, akan kujadikan hal ini sebagai pelajaran. dan aku tak boleh menyerah.
Saat aku ingin menyesali aku ingat, waktu telah habis.
Karena kini tiba saatnya aku terus mengejar ketinggalan,
meraih impian dan menggapai harapan.
Tapi setiap hari sedikit kalimat keluar sinis dari bibirku “Aku lelah”
Aku takut tak mampu berlari,
aku takut tak mampu meraih mimpi
dan aku takut tak bisa mencapai harapan.
Dari semua itu aku punya sebuah kesimpulan, akan kujadikan hal ini sebagai pelajaran. dan aku tak boleh menyerah.
Thursday, March 5, 2009
Bisakah Diriku Seperti Dulu Lagi

Terkadang aku seperti tidak memiliki siapapun, yang bisa aku percaya. Aku kadang tidak mengerti perasaanku akhir-akhir ini tak karuan. Membuatku tak mengenal diriku sendiri. Aku siapa? Aku di mana? Membuat aku sering lupa apa yang baru saja aku lakukan, apa yang semalam kulakukan dan kemarin dan kemarinnya lagi. Aku tak pernah fokus, bukan tak pernah, tapi tak bisa. Aku lupa kapan terakhir kalinya aku fokus. Seingatku, hanya waktu aku SMK kelas 3, saat nilai ujian akuntansi hanya mendapat nilai 5 karena semalaman tidak belajar tapi malah mencari dana kegiatan OSIS.
Kejadian itu membuat aku terpacu untuk belajar, mencoba lebih fokus dan nilaiku mendapat nilai tertinggi berikutnya. Di saat soal-soalnya sudah menjadi sulit, di saat teman-temanku kewalahan mengerjakan tapi aku begitu mudah mendapat nilai hampir sempurna, nilai yang tinggi dan tertinggi, di kelasku. Kelas yang bergengsi saat SMK. Betapa aku mendapatkan diriku. Itulah diriku. Diriku yang penuh percaya diri dan siap menyongsong masa depanku. Masa depan yang aku yakin pasti aku akan berhasil menggapai cita-citaku. Indah sekali.
Tapi disaat sekarang, kenapa aku berbeda. Sangat berbeda. Aku tak pernah fokus lagi. Pikiranku tidak disini. Pikiranku ada di atas awan, berpencar dan terus mencari arti kebenaran hidup. Di manakah ia berada?
Hari-hari aku tersenyum, tapi tidak ada seorang pun yang tau bahwa itu semua hanya kebohongan, mereka tidak ada yang tahu luka dalam hatiku yang begitu dalam, yang kalau aku mau berpikir sejenak memikirkan masalahnya mampu melumpuhkan seluruh syaraf – syarafku.
Tuhan, aku yakin Engkau ada. Akankah sekarang Engkau sedang menggendongku? Di saat alam pikiranku merasakan bahwa aku telah tak mampu berjalan. Tuhan, sebenarnya aku tidak ingin mengeluh, sungguh aku tidak ingin mengeluh. Terkadang aku bersimpuh padaMU, aku yakin Engkau mendengarku.
Tuhan, tapi aku mohon, jangan biarkan aku terus-terusan menjadi orang yang munafik, orang yang hari-harinya sepertinya penuh kestabilan hati dan keceriaan tapi ternyata hatinya hancur dan tak berasa. Aku benci orang munafik, aku tidak tahu, aku tidak tau kemana arah langkah kaki membawaku. Karena aku tak tahu siapa sebenarnya yang menggerakan langkah kakiku. Karena, jika aku sadar, pikiranku selalu kacau dan tanpa sadar aku telah berada disini tanpa tahu apa yang sebelumnya telah aku lakukan.
Tuhan, apa itu fatamorgana? Apa kebahagiaan juga bersifat seperti itu? Kenapa aku merasa sedikit sekali kebahagiaan di saat sekarang? Tuhan, aku lelah, aku ingin duduk sejenak, bebas berpikir dan merenung, sebentar saja, tidaklah lama, karena aku telah lelah, lelah, sangat lelah. Ku ingin bersimpuh sebentar di bawah pohon yang Kau anugrahkan untuk orang-orang yang beriman padaMU. Tapi apakah aku pantas? Aku merasa diriku tidak pantas. Tuhan, maafkan aku yang sering tidak mensyukuri karuniaMU. Tapi memang aku lelah, sering aku ingin meminta dan berdoa pada Engkau, tapi, aku merasa malu, aku malu, dengan diriku yang penuh dosa ini.
Sekarang, aku merasa memoriku tidak sekuat dulu, sering aku mengamat-amati orang karena aku lupa dia siapa. Sering aku terbangun dari tidurku dan sekian lama aku berusaha mengenal diriku sendiri. Apa yang terjadi denganku? Kenapa, aku sering tidak mengenal diriku dan orang lain lagi. Kepada siapa di dunia ini aku boleh berbagi? Aku tidak punya petunjuk hati untuk itu. Aku, mungkin lebih baik aku bercerita pada orang yang jauh, yang kemungkinan bertemu denganku sangat kecil, karena aku tidak mau ditertawakan dan di kasihani. Aku takut dan tidak menyukai pandangan orang-orang yang mengkhawatirkan diriku, yang mengasihani diriku. Terutama dengan keluargaku.
Tuhan, ini teriakan kalbuku. Aku hanya bisa dan mampu menuliskan ini semua dalam bentuk tulisan, Tuhan , saat ini hatiku sedang berdoa, doa yang aku panjatkan adalah tulisan ini, ku mohon beri aku kemudahan, beri aku kekuatan pikiran, beri aku ketajaman ingatan yang sekarang sudah melemah lebih dari penyakit orang tua. Aku hanya tidak ingin, ada yang mengambil alih tubuh dan pikiranku. Aku hanya ingin menemukan diriku, jiwaku, diri dan jiwaku yang sebenarnya, yang entah sekarang tersesat di dunia mana.
Monday, February 16, 2009
Bila Waktu Bertanya padaku soal Hati
Dan ketika waktu bertanya pada hatiku
Aku sedang mengubahnya menjadi baja
Bila waktu bertanya soal jiwa
Kehancuran tiada menyisa
Titik titik air mata membawaku hanyut dalam keresahan
Saat Sang Kuasa bersabda
Inikah untuk meluruskan kegelisahaan
Banyak dosa kubuat
Banyak sadar kupunya
Namun itu hanya angin lalu
Bisikan usang di hati yang terlupa demi nikmat sesaat
Aku ingin kembali
Tapi kakiku putus satu
Sungguh, ingin aku kembali
Menyemai benih iman lugu
Menanami ladang surga
Sungguh, ingin aku kembali
Mendengar firman lalu berbangga
Aku ingin kembali dari kehancuran
Aku ingin kembali menjejali jiwa dengan sabda Tuhan
Aku sedang mengubahnya menjadi baja
Bila waktu bertanya soal jiwa
Kehancuran tiada menyisa
Titik titik air mata membawaku hanyut dalam keresahan
Saat Sang Kuasa bersabda
Inikah untuk meluruskan kegelisahaan
Banyak dosa kubuat
Banyak sadar kupunya
Namun itu hanya angin lalu
Bisikan usang di hati yang terlupa demi nikmat sesaat
Aku ingin kembali
Tapi kakiku putus satu
Sungguh, ingin aku kembali
Menyemai benih iman lugu
Menanami ladang surga
Sungguh, ingin aku kembali
Mendengar firman lalu berbangga
Aku ingin kembali dari kehancuran
Aku ingin kembali menjejali jiwa dengan sabda Tuhan
Saturday, February 14, 2009
Tak Berpilihan
Bukan waktu singkat aku dan kau hingga di tempat ini
Bukan selalu melewati hari cerah kita berjalan hingga ke tempat ini
Pernahkah kau sadari, seletih apapun kakiku melangkah
Menyusuri setiap peluh juga tawa riang
Mengais setiap tusukan juga pelukan
Bukanlah dendam yang ingin kukenang
Namun kecupan yang ingin kusimpan
Bertabur dan berhias keikhlasan dan berkah
Dengar sayang,
Bila waktu berputar dan kau mengingkar
Betapa hancur lebur jiwa serta raga
Andai buih kebohongan meluruh di sisi hati
Betapa pedih pilu meradang
Aku tetap manusia biasa
Dengan canda manja dan amarah
Aku tetap gadis setia
Walau kau melupa meski sesaat
Dan aku ingin tetap memelukmu
Demi segenap rindu yang mengiris kalbu
Lalu merapuh
Aku berharap untuk selalu memelukmu
ketika setiap detik berdetak bersamamu
Aku berharap untuk selalu menyentuhmu
ketika kau bermuram meragu
Aku berharap untuk bisa berikan tubuhku
ketika kau marah dan ingin menjauh
Dan,
Aku berharap akan pelukanmu ketika letih kakiku
Aku berharap akan candamu ketika aku melempar marah padamu
Aku berharap belaianmu ketika aku membeku dalam keras kepalaku
Aku berharap kecupanmu ketika aku merasa cemburu, dan katakanlah bahwa aku hanya milikmu
Aku hanya mengharapmu
Bukan selalu melewati hari cerah kita berjalan hingga ke tempat ini
Pernahkah kau sadari, seletih apapun kakiku melangkah
Menyusuri setiap peluh juga tawa riang
Mengais setiap tusukan juga pelukan
Bukanlah dendam yang ingin kukenang
Namun kecupan yang ingin kusimpan
Bertabur dan berhias keikhlasan dan berkah
Dengar sayang,
Bila waktu berputar dan kau mengingkar
Betapa hancur lebur jiwa serta raga
Andai buih kebohongan meluruh di sisi hati
Betapa pedih pilu meradang
Aku tetap manusia biasa
Dengan canda manja dan amarah
Aku tetap gadis setia
Walau kau melupa meski sesaat
Dan aku ingin tetap memelukmu
Demi segenap rindu yang mengiris kalbu
Lalu merapuh
Aku berharap untuk selalu memelukmu
ketika setiap detik berdetak bersamamu
Aku berharap untuk selalu menyentuhmu
ketika kau bermuram meragu
Aku berharap untuk bisa berikan tubuhku
ketika kau marah dan ingin menjauh
Dan,
Aku berharap akan pelukanmu ketika letih kakiku
Aku berharap akan candamu ketika aku melempar marah padamu
Aku berharap belaianmu ketika aku membeku dalam keras kepalaku
Aku berharap kecupanmu ketika aku merasa cemburu, dan katakanlah bahwa aku hanya milikmu
Aku hanya mengharapmu
Sunday, January 18, 2009
Butir Kegelisahan
Tak bisa kupungkiri memang, beberapa hari ini aku terus mencoba menentramkan jiwa, menyelimuti kalbu yang mulai tertoreh. Menutupi kegelisahan yang aku sendiri tak memahaminya. Aku melangkah setapak, namun kalut itu masih ada. Kembali ku gelengkan kepala, berharap bayangan yang tak berwujud itu segera hilang meninggalkan diriku. Aku menjerit pelan " Pergilah, aku mohon..." Terasa ruang ini begitu sempit. Padahal sebelumnya aku sangat mencintai ruang ini, disinilah tempatku menghilangkan jenuh hari-hariku, melepaskan segala penat. Kini, ia tak berarti apa-apa. Seolah ada tempat lain yang lebih nyaman bagiku, dan aku bisa tenang disana.
Jiwaku benar-benar carut marut. Aku duduk diatas kursi kesayanganku. Dimana aku melayang kedunia maya, disana aku terbang kemanapun yang aku inginkan, dan disana pula tempatku menoreh banyak cerita, menyampaikan pesan hati lewat tulisan. Kugoyangkan penaku perlahan. Tercoret tanpa arah. Tanpa makna. Namun, bagiku coretan itu begitu menyimpan makna. Sebegitukah keadaan hatiku saat ini? Fuih,,,aku tak menemukan ide untuk berpesta pora dengan kata-kata indah. Kemudian aku bangkit, berjalan kesana kemari.
Kuhentikan langkah. Kumelihat kesekeliling. Ah, kenapa aku tidak mengaji saja. Akhirnya aku tersenyum indah, aku tahu apa yang akan aku lakukan saat ini. Segera aku beranjak ke kamar mandi ingin berwudhu, berusaha menentramkan kegalauan hati. Ya Allah, kesejukan ini sungguh bermakna. Kumulai dengan kalimat ta'awudz dan basmalah untuk memasuki dunia kalam Nya. Tetesan embun memenuhi ruang jiwaku, menyejukkan jiwaku yang sedang meronta galau. Terasa begitu indah. Air mataku mulai jatuh, bening itu jatuh begitu saja, tanpa paksaan, tanpa rekayasa. Semakin ku memperpanjang bacaan, semakin deras ia bercucuran, menandakan sebegitu beratnya beban hatiku saat ini. Allah aku begitu merindukanMu. Sungguh!!!
"Ya Allah, betapa besar dosaku selama ini. Cinta yang Kau berikan telah aku salah artikan. begitu halusnya iblis membisikkan arti cinta itu hingga kabut cinta duniawi telah menghalangi arti sebenarnya cinta. Ya Allah, andaikan cintaku padaMu sebesar cintaku padanya bahkan lebih dari itu. Sungguh aku sangat menginginkan hal itu sebelum Kau memanggilku. Ya Allah jadikan cintaku padaMu begitu besar hingga ku tak takut akan kematian bahkan kematian menjadikan gerbang menuju kerinduan menghadapMu"
Jiwaku benar-benar carut marut. Aku duduk diatas kursi kesayanganku. Dimana aku melayang kedunia maya, disana aku terbang kemanapun yang aku inginkan, dan disana pula tempatku menoreh banyak cerita, menyampaikan pesan hati lewat tulisan. Kugoyangkan penaku perlahan. Tercoret tanpa arah. Tanpa makna. Namun, bagiku coretan itu begitu menyimpan makna. Sebegitukah keadaan hatiku saat ini? Fuih,,,aku tak menemukan ide untuk berpesta pora dengan kata-kata indah. Kemudian aku bangkit, berjalan kesana kemari.
Kuhentikan langkah. Kumelihat kesekeliling. Ah, kenapa aku tidak mengaji saja. Akhirnya aku tersenyum indah, aku tahu apa yang akan aku lakukan saat ini. Segera aku beranjak ke kamar mandi ingin berwudhu, berusaha menentramkan kegalauan hati. Ya Allah, kesejukan ini sungguh bermakna. Kumulai dengan kalimat ta'awudz dan basmalah untuk memasuki dunia kalam Nya. Tetesan embun memenuhi ruang jiwaku, menyejukkan jiwaku yang sedang meronta galau. Terasa begitu indah. Air mataku mulai jatuh, bening itu jatuh begitu saja, tanpa paksaan, tanpa rekayasa. Semakin ku memperpanjang bacaan, semakin deras ia bercucuran, menandakan sebegitu beratnya beban hatiku saat ini. Allah aku begitu merindukanMu. Sungguh!!!
"Ya Allah, betapa besar dosaku selama ini. Cinta yang Kau berikan telah aku salah artikan. begitu halusnya iblis membisikkan arti cinta itu hingga kabut cinta duniawi telah menghalangi arti sebenarnya cinta. Ya Allah, andaikan cintaku padaMu sebesar cintaku padanya bahkan lebih dari itu. Sungguh aku sangat menginginkan hal itu sebelum Kau memanggilku. Ya Allah jadikan cintaku padaMu begitu besar hingga ku tak takut akan kematian bahkan kematian menjadikan gerbang menuju kerinduan menghadapMu"
Subscribe to:
Comments (Atom)