Setelah sekian lama tidak menulis di blog ini.. kubuka lagi dan kubaca. Tersenyum sendiri, merasakan konyol, bagaimana bisa aku menulis dengan nada melow begitu.. ternyata suasana hati sangat memberi pengaruh yang luar biasa terhadap tulisan.
Dan tahun pun berganti, semoga hal-hal baik yang bisa kubagi.
Ruang Hati
Curahan hati tentang hidup yang tersaji dalam bentuk puisi, refleksi, cerpen, memori, dan opini
Friday, January 21, 2011
Wednesday, October 21, 2009
Mencintai dengan Tulus
Ketika seseorang berbicara tentang cinta, maka apa yang sebetulnya sedang bercokol dalam hatinya adalah untuk dicintai. Kalaupun ia mencoba mencintai seseorang, maka itu hanyalah agar dicintai. Ia mencintai untuk dicintai, sebagai balasannya. Dan bilamana ternyata yang dicintainya itu tidak membalasnya, maka ia akan sangat mudah berubah, bahkan berbalik membenci. Ia merasa kecewa, direndahkan, disepelekan, tidak dihargai, ditolak, ditampik, terhina atau sejenisnya. Yang tadinya ia sangka sebagai perilaku mencintai, kini telah berubah sama sekali. Kini ia berubah menjadi benci, bahkan dendam.
Apa yang sesungguhnya terjadi padanya? Apakah ia memang benar- benar mencintai orang, yang konon tadinya ia cintai itu? Ternyata tidak. Bukan karena ia kini membenci atau mendendam, namun karena keinginannya untuk memiliki, menguasai, mengangkangi bagi dirinya sendiri. Yang ada ketika itu sebetulnya sama sekali bukan cinta.
Ada yang bilang “Cinta bukanlah untuk memiliki, namun untuk dimiliki.” Dan kupikir itu ada benarnya, setuju atau tidak, ketika kita benar-benar dapat menghadirkan sikap batin demikian, itu memang mampu membahagiakan. Dengan membiarkan diri untuk dimiliki tanpa merasa perlu memiliki.
Mencintai ataupun membenci seseorang sepenuhnya ada dalam kewenangan kita bukan? Kita tidak dapat dipaksa untuk mencintai siapapun, kalau kita memang sama sekali tidak ada rasa itu, kecuali hanya berpura-pura saja. Demikian pula orang lain; tak seorangpun dapat kita paksa untuk mencintai kita. Bila kita benar-benar mencintai seseorang, kita tak perlu peduli apakah ia mencintai diri kita atau tidak. Aku, kamu, hanya mencintainya. Itu saja. Sama sekali tidak ada urusannya dengan masalah kepemilikan, masalah memiliki, menguasai.
Bila kita benar-benar dapat mencintai tanpa disertai atau dimotivasi keinginan yang kuat untuk memiliki, maka kita bisa merasakan kebahagiaan dari mencintai. Sebaliknya, kita hanya mengundang kepedihan, kesengsaraan. Ketulusan dalam mencintai itulah yang membahagiakan. Bukan balasan yang kita terima. Dalam ketulusan, tiada harapan, hasrat atau keinginan untuk menerima sesuatu sebagai imbalan. Dalam ketulusan, yang ada hanyalah sikap batin memberi dengan sukarela, dengan ikhlas. Itulah yang membahagiakan. Dan, itu pertanda bahwa cinta yang kita berikan murni adanya.
Sesungguhnya, kita tidak pernah layak untuk dicintai bila belum siap untuk mencintai. Adalah keliru memandang dicintai sebagai hak, sementara tak merasa wajib untuk mencintai. Kewajiban semestinya selalu mesti didahulukan. Apakah kewajiban itu mensyaratkan kerja fisik, kerja verbal, kerja perasaan ataupun kerja pikiran, ia tetap mesti didahulukan.
Apa yang sesungguhnya terjadi padanya? Apakah ia memang benar- benar mencintai orang, yang konon tadinya ia cintai itu? Ternyata tidak. Bukan karena ia kini membenci atau mendendam, namun karena keinginannya untuk memiliki, menguasai, mengangkangi bagi dirinya sendiri. Yang ada ketika itu sebetulnya sama sekali bukan cinta.
Ada yang bilang “Cinta bukanlah untuk memiliki, namun untuk dimiliki.” Dan kupikir itu ada benarnya, setuju atau tidak, ketika kita benar-benar dapat menghadirkan sikap batin demikian, itu memang mampu membahagiakan. Dengan membiarkan diri untuk dimiliki tanpa merasa perlu memiliki.
Mencintai ataupun membenci seseorang sepenuhnya ada dalam kewenangan kita bukan? Kita tidak dapat dipaksa untuk mencintai siapapun, kalau kita memang sama sekali tidak ada rasa itu, kecuali hanya berpura-pura saja. Demikian pula orang lain; tak seorangpun dapat kita paksa untuk mencintai kita. Bila kita benar-benar mencintai seseorang, kita tak perlu peduli apakah ia mencintai diri kita atau tidak. Aku, kamu, hanya mencintainya. Itu saja. Sama sekali tidak ada urusannya dengan masalah kepemilikan, masalah memiliki, menguasai.
Bila kita benar-benar dapat mencintai tanpa disertai atau dimotivasi keinginan yang kuat untuk memiliki, maka kita bisa merasakan kebahagiaan dari mencintai. Sebaliknya, kita hanya mengundang kepedihan, kesengsaraan. Ketulusan dalam mencintai itulah yang membahagiakan. Bukan balasan yang kita terima. Dalam ketulusan, tiada harapan, hasrat atau keinginan untuk menerima sesuatu sebagai imbalan. Dalam ketulusan, yang ada hanyalah sikap batin memberi dengan sukarela, dengan ikhlas. Itulah yang membahagiakan. Dan, itu pertanda bahwa cinta yang kita berikan murni adanya.
Sesungguhnya, kita tidak pernah layak untuk dicintai bila belum siap untuk mencintai. Adalah keliru memandang dicintai sebagai hak, sementara tak merasa wajib untuk mencintai. Kewajiban semestinya selalu mesti didahulukan. Apakah kewajiban itu mensyaratkan kerja fisik, kerja verbal, kerja perasaan ataupun kerja pikiran, ia tetap mesti didahulukan.
Friday, October 9, 2009
Titik JenuH...
"Kadang kita masih boleh mengatasi segala masalah kita
tapi bila kita telah berada dititik jenuh...
semua seakan pupus dan hampa"
Raga bernyawa…
Jantung berdegub…
Darah mengalir…
Masih ada kehidupan
Tetapi…
Mengapa hembusan nafas terasa berat
Mengapa deguban jantung terasa pelan
Dan seolah berhenti
Mengapa aliran darah terasa lambat
Masih inginkah aku hidup?
Masih inginkah aku melihat duniaku?
Masih adakah masa depanku!
Masih adakah arti hidup!
Hahhhh!!!!!
Teriakanku hancurkan karang
Tapi hembusan nafas tetap terasa berat
Tangisanku pekakkan telinga
Tapi jantung tak berhenti berdegup
Amarahku gemparkan kota
Tapi darah tetap mengalir
Dan ku lelah dengan semuanya
Hingga ku terhenti
Dititik jenuhku
tapi bila kita telah berada dititik jenuh...
semua seakan pupus dan hampa"
Raga bernyawa…
Jantung berdegub…
Darah mengalir…
Masih ada kehidupan
Tetapi…
Mengapa hembusan nafas terasa berat
Mengapa deguban jantung terasa pelan
Dan seolah berhenti
Mengapa aliran darah terasa lambat
Masih inginkah aku hidup?
Masih inginkah aku melihat duniaku?
Masih adakah masa depanku!
Masih adakah arti hidup!
Hahhhh!!!!!
Teriakanku hancurkan karang
Tapi hembusan nafas tetap terasa berat
Tangisanku pekakkan telinga
Tapi jantung tak berhenti berdegup
Amarahku gemparkan kota
Tapi darah tetap mengalir
Dan ku lelah dengan semuanya
Hingga ku terhenti
Dititik jenuhku
Tuesday, September 29, 2009
Thursday, May 7, 2009
"Pain is inevitable. Suffering is optional." (mengalami rasa sakit itu lumrah, tidak akan terhindari. Tapi menderita itu adalah soal pilihan kita)

Untuk yang pernah merasakan sakit hati.. mungkin ini bisa jadi obat..
Mari disimak...
Ada sebuah kisah inspiratif yang saya ambil dari buku pertama saya, Emotional Quality Management. Kisahnya begini.
"Ada sebuah kisah tentang sebuah rumah. yang kebetulan dihuni seekor monster yang menetap di ruang bawah tanah. Sang pemilik rumah tahu tentang kehadiran monster itu. Jika merasa terusik, monster itu akan keluar menjahati, mengganggu bahkan memangsa siapa pun yang ada di dalam rumah, kecuali pemilik rumah itu. Hal ini membuat si pemilik rumah menyatakan perang dengan si monster. Namun, monster itu tak pernah berhasil diusir keluar. Maka monster itu pun dikurung di ruang bawah tanah.
Tetapi, monster itu selalu mampu menemukan jalan keluar. Bertahun-tahun, monster itu selalu mengancam kehidupan pemilik rumah. Hingga akhirnya, pemilik rumah memutuskan untuk membiarkan monster itu naik, dan tinggal di ruang dalam. Ruang bawah tanah pun dihancurkannya. Monster itu, ternyata merasa tidak tahan terus-terusan tinggal di dalam rumah. Monster itu pun pergi.... Selamanya!"
Kisah di atas saya pakai untuk menggambarkan soal berbagai 'monster' kepahitan, rasa sakit, luka ataupun kepedihan yang kita simpan terus-menerus dalam diri kita.
Hikmahnya, selama tidak pernah diselesaikan, kepedihan itu akan terus-menerus menghantui dan mengganggu kehidupan kita. Itulah sebabnya, ada benarnya saat Milton Wrad, penulis buku The Brilliant Function of Pain (Fungsi Brilian dari Rasa Sakit), mengatakan, "Fearing pain, fighting pain, avoiding pain or ignoring pain, only increasing it. Flow with it". Artinya, ketakutan pada rasa sakit, melawan rasa sakit, menghindari rasa sakit dan mengelak dari rasa sakit hanya akan meningkatkan rasa sakit kita. Mengalirlah dengan rasa sakit itu. Hal ini terutama benar, khususnya kalau kita bicara soal rasa sakit emosional.
Setiap orang pastilah pernah memiliki luka emosional. Bagi segelintir orang, luka tersebut menjadi luka batin berkepanjangan. Namun, di pihak lain ada yang bisa memilih untuk tidak menjadi terhambat karena luka-luka tersebut.
Saya ingat, ada dua wanita yang pernah dilecehkan secara seksual oleh orangtuanya. Satunya hidup menderita dan mulai membenci semua laki-laki. Satunya lagi, bisa belajar memaafkan dan memulai lembaran hidup baru dengan lebih berhati-hati memilih pasangan.
Wanita yang kedua ini, bisa kembali menjalani hidupnya secara tegar. Saat ditanya, bagaimana filosofi hidupnya dan mengapa dia bisa bertahan, jawabnya sederhana, "Pain is inevitable. Suffering is optional." (mengalami rasa sakit itu lumrah, tidak akan terhindari. Tapi menderita itu adalah soal pilihan kita). Sebuah filosofi hidup yang menarik.
6 Langkah
Secara psikologis, ada enam langkah proses penyembuhan luka batin yang bisa kita lakukan pada diri kita.
Pertama, identifikasi. Yakni mengidentifikasikan kembali isu-isu lama yang pernah membuat Anda terluka. Banyak orang enggan melakukannya, karena takut membangunkan 'monster' yang tertidur.
Namun, selama hanya ditimbun dan tidak diselesaikan secara tepat, maka monster ini akan terus-menerus mencari cara mengganggu kehidupan kita. Cara terbaik adalah menghadapinya dengan gagah berani dan sikap yang positif. Itulah sikap terbaik menghadapi luka-luka lama kita.
Kedua, kaitkan. Tanyakanlah pada diri Anda bagaimana luka-luka batin itu berpengaruh terhadap kehidupan Anda sekarang. Bagaimanakah hal itu mengganggu proses Anda sekarang. Kaitkan isu lama Anda dengan situasi yang Anda alami sekarang.
Biasanya luka batin serta pengalaman tak menyenangkan pada masa lampau memberikan pengaruh terhadap apa yang terjadi saat ini. Semakin banyak Anda terpengaruh, semakin Anda perlu membereskan.
Ketiga, pikirkan. Pikirkan apa yang mau diubah. Pikirkan pula, apa akibatnya bagi diri Anda jika hal tersebut dapat diubah dan diselesaikan. Pikirkan pula apa akibatnya jika ternyata Anda tidak mengubahnya sama sekali.
Keempat, afirmasi. Di langkah keempat ini, lakukanlah afirmasi terus-menerus kepada diri sendiri, bahwa Anda perlu, ingin serta memilih untuk berubah. Berlajarlah untuk mengatakan, "Luka ini menyiksaku, tetapi saya lebih kuat dan saya ingin menyelesaikan sehingga luka ini tidak lagi menghalangi hidupku", Ayo. Diriku lebih kuat dari luka ini." Saya tidak akan membiarkan luka ini mengganggu hidupku. Itulah pilihanku".
Kelima, ventilasi emosi. Di sinilah kita ditantang untuk memventilasikan emosi kita secara positif. Arti sederhananya, Anda perlu mencari cara untuk menyalurkan kemarahan tersebut secara sehat. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai aktivitas atau kegiatan seperti menulis diary, membagikan dengan orang lain, berbicara dengan seorang ahli, berolah raga, yoga, meditasi, dan masih banyak aktivitas lainnya.
Akhirnya, tahap keenam penyembuhan. Di sinilah kita mencoba melakukan proses penyembuhan baik secara mental maupun spiritual. Dalam tahapan ini, kita bisa membingkai ulang dengan memaknai secara berbeda apa yang terjadi ataupun mengganti kesan kita yang negatif soal luka itu, dengan pikiran positif.
Sebenarnya, hingga di langkah keenam ini, kita sudah menyelesaikan secara pribadi. Namun, jika diperlukan, langkah ini pun bisa dilanjutkan dengan menyelesaikan hal ini dengan penyebab luka batin Anda yang masih hidup.
Misalkan ada seorang anak dari istri pertama yang diusir keluar rumah oleh ayahnya, setelah ayahnya menikah dengan istri kedua. Hal ini menimbulkan luka batin cukup lama, tapi akhirnya setelah belajar proses di atas, dia bisa menelepon papa-nya dan mengatakan, "Papa, meskipun papa pernah usir saya dan saya terluka, saya mau bilang saya memaafkan papa hari ini." Bertahun-tahun kemudian, saat ditanya sahabatnya bagaimana dia mampu melakukannya, dia hanya berkata, "Saya menerima papa untuk menunjukkan bahwa diri saya lebih baik dari diri papa!"
Dalam kesempatan ini pula, mari kita belajar perlakukan luka batin kita dengan ramah. Lihat kembali luka itu, dan jangan ditolak. Belajarlah menerima kenyataaan dan perlakukan rasa sakit kita tersebut dengan ikhlas. Itu semua adalah pelajaran penting dalam hidup kita.
Hingga akhirnya, kita harus belajar mengatakan "Terima kasih luka batinku. Ini nggak nyaman tapi terima kasih. Kau sudah memberikan pelajaran penting bagi hidupku!". Pada akhirnya, semua luka batin yang tersembuhkan dalam hidup kita akan menjadi kebijaksanaan yang penting.
Itulah sebabnya orang mengatakan, "Wisdom is a healed pain". Begitulah. Rasa sakit dan luka batin yang telah disembuhkan, akan menjadi kebijaksanaan baru buat kita!
Penulis : Anthony Dio Martin.
Tuesday, March 17, 2009
Subscribe to:
Comments (Atom)